header

Tips Traveling Bareng Anak Usia 3 Tahun

Posting Komentar

Traveling Bareng Anak Usia Dini

Hi SobatMQ!
Saya pernah berpikir bahwa traveling bareng anak usia 3 tahun itu sama saja dengan “perjalanan penuh drama” dan sebaiknya dihindari. Drama sepanjang perjalanan sudah terbayang dalam kepala saya. 

Bagaimana saya mencapai fase tanda anak siap diajak traveling yang nyaman? Hingga melewati perjalanan yang bikin deg-degan di bulan puasa?

Kecemasan seperti koper yang berat, antrian yang ramai, hingga harus siaga 'mata elang' terhadap mereka selama di perjalanan. Semua bisa jadi ujian kesabaran dan aktivitas melelahkan untuk orang tua. Setuju nggak?

Tapi, di perjalanan terakhir kami ke Tanjugpinang jelang lebaran beberapa tahun lalu, ternyata nggak se-drama dalam bayangan saya. Untuk pertama kalinya, kami berhasil traveling bareng anak usia 3 tahun dan 4 tahun yang bebas tantrum. Masya Allah.

Saya ingin berbagi pengalaman traveling kamu, tapi bukan sekadar tentang jalan-jalannya saja, tapi tentang bagaimana sebuah perjalanan bisa menjadi sebuah pengalaman yang berharga.

Persiapan Sebelum Keberangkatan


Seminggu sebelum berangkat, saya sudah mulai memenuhi kepala dengan berbagai pertanyaan. “Apa anak-anak bakal rewel di perjalanan ya?” atau “Bagaimana kalau dia bosan di kapal?” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala secara bergantian.

Saya paham bahwa anak usia dibawah Lima tahun itu sedang di masa eksplorasi dan ingin mandiri. Namun, anak balita ini belum sepenuhnya mampu mengatur emosinya. Jika sedang bosan, lagi lapar, atau bahkan sedang tidak nyaman, keadaan bisa berubah menjadi tangisan bahkan amukan panjang. Ups! Jangan sampai deh!

Untuk itu, saya terus berpikir bagaimana kekacauan dalam khayalan saya itu tidak jadi kenyataan. Saya mencoba membuktikan bahwa traveling bareng anak usia 3 dan 4 tahun itu tidaklah menyeramkan. Saya ingin menciptakan traveling’s experience yang menyenangkan. Untuk itu, saya perlu persiapan yang matang sebelum keberangkatan.

Kunci Utama Sebelum Traveling Bareng Anak 3 Tahun


Saya mulai dengan satu kata yaitu persiapan. Saya tahu, anak kecil butuh rasa aman. Jadi, seminggu sebelum berangkat, saya mulai melibatkan anak-anak dalam setiap rencana. Saya mencoba dengan melakukan pendekatan yang ‘akrab’ dengan ‘dunia’ nya.

Maklum ini perjalanan ‘agak’ jauh yang biasa kami tempuh haha.. Kalau biasanya kami hanya melakukan perjalanan darat saja, namun kali ini kami akan melalui jalan darat dan laut. Meski Batam-Tanjugpinang hanya sepelemparan batu, namun membawa anak kecil dalam perjalanan ini adalah pengalaman baru. Dan tentunya cukup bikin jantung dag dig dug hehe..

Kapal laut

Sebagai langkah persiapan, saya mencoba memberikan beberapa foto-foto sebagai referensi destinasi di hape tentang kapal laut, pelampung, dan berbagai aktivitas di atas kapal. Terakhir, saya pun berkata dengan penuh semangat, “Nanti kita lihat kapal sungguhan ya, Nak!”

Matanya berbinar. Itu tanda awal yang bagus. Seakan mengisyaratkan bahwa dia siap segera bepergian. Selain itu, saya membuat daftar kecil sebagai ‘senjata’ saya menghadapi anak yang tantrum di perjalanan.

Beberapa barang tersebut adalah:
  • Snack favorit (yang tidak mudah tumpah)
  • Mainan kecil kesayangannya seperti buku bantal, mainan bergerak seperti kipas mainan dan semisal.
  • Bantal kecil untuk tidur di perjalanan
  • Headset anak untuk mendengarkan lagu kesukaannya
  • Satu set pakaian cadangan dalam tas jinjing

Banyak kan? Saya sendiri tertawa geli. Lucu sekali ya? Padahal kalau dipikir, perjalanan lintas pulau dalam satu provinsi ini masih terbilang rute pendek lho. Hanya sekitar 2 jam perjalanan. Tapi persiapan saya cukup riweuh untuk perjalanan yang singkat ini haha..

Pemilihan Waktu Perjalanan yang Tepar


Saya dan suami memutuskan untuk memilih keberangkatan kapal di pagi hari. Alasannya karena di jam itu biasanya anak masih dalam mood baik dan tidak kelelahan. Keadaan pelabuhan pun belum terlalu ramai. Meskipun saya tahu bahwa kondisi pelabuhan jelang lebaran sungguh menguras energi dan emosi.

Namun, saya tetap optimis dapat melakukan perjalanan ini dengan happy. Yang saya baca, kuncinya perjalanan aman bareng anak 3 tahun bukan sekadar membawa barang, tapi membawa rasa nyaman yang familiar bagi anak.

Pengalaman Traveling Bareng Anak Batita


Begitu tiba di pelabuhan, saya mengajak kedua anak saya menikmati ramainya arus mudik. Biasanya anak-anak mulai rewel karena suasananya ramai dan asing. Tapi kali ini, saya mencoba sesuatu yang berbeda.

Saya berkata pelan pada mereka, “Kita lagi di pelabuhan, tempat di mana kapal besar-besar banyak bersandar. Kita mau cari kapal apa ya?”

Kapal cepat

Anak-anak saya langsung menatap ke laut. Si Kakak (4 tahun) yang paling semangat, matanya berbinar lagi. Rasa ini ternyata diikuti oleh si Bungsu yang berusia 3 tahun. Kami pun menjelajahi pelabuhan seperti para penjelajah cilik. Dia menunjuk kapal yang di ujung sana, lalu menebak yang mana yang akan kami naiki. Ternyata, rasa ingin tahu bisa jadi peredam tantrum paling ampuh.

Ketika boarding, saya meminta anak-anak memegang boarding pass-nya sendiri (tentu dengan pengawasan). Mereka exited. Seakan merasa punya peran penting dalam perjalanan ini. Anak-anak itu ternyata suka merasa “dilibatkan,” bukan sekadar “diatur.”

Selama Perjalanan Laut


Begitu duduk di kursi, saya tahu ini momen paling menegangkan satu jam di kapal bersama para balita aktif. Saya meminta bantuan suami untuk berbagi tugas, kalau-kalau anak kami tantrum. Dirinya harus siap mengajaknya ke Dak kapal untuk melihat udara laut. Tapi sebelum itu terjadi, saya sudah menyiapkan “senjata rahasia” lain yaitu makanan kecil berbentuk hewan dan buku bantalnya.

Dak kapal



Ketika kapalnya mulai bergerak, saya berbisik, “Kita mau berjalan di atas laut. Ini pengalaman seru lho, Nak. Kalau nanti kapalnya berjalan kamu akan merasa seperti berjalan di atas air”

Tangannya saya genggam. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan. Hanya rasa takjub di wajah kecilnya.

Selama di perjalanan, saya memberinya aktivitas ringan seperti menggambar di buku kecil, menempel stiker, dan mendengarkan lagu favoritnya. Setiap kali mulai bosan, saya ajak bermain tebak kata atau membacakan cerita. Sesekali air laut menggeliat, kapal miring ke kiri dan ke kanan, saat itulah saya mengatakan bahwa inilah indahnya perjalanan laut. Bisa mengikuti gelombang air. Meskipun..bonusnya adalah mabuk laut kalau nggak kuat hihi..

Ternyata, jurus ini ampuh membuat para krucil saya duduk tenang di kapal, tanpa drama apalagi rasa takut. Kuncinya adalah mengalihkan fokus dari hal yang menegangkan ke hal yang menarik. Pokoknya selama perjalanan, saya selalu aktif bercerita atau mengajak mereka makan wkwk

Dari sini, saya belajar bahwa perjalanan yang menegangkan akan menjadi menyenangkan jika dengan persiapan matang. Tepiskan rasa khawatir berlebih ketika persiapan sudah maksimal, selebihnya banyak-banyaklah berdoa.

Pulang dengan Hati Penuh Syukur


Ketika perjalanan pulang kembali ke Batam pun, suasana perjalanan kami smooth tanpa masalah. Kami kembali ke Batam dengan penuh suka cita selepas berkumpul bersama keluarga. Saya memandangi wajah kecilnya yang tertidur di pangkuan. Tidak ada adegan menangis kejer di dalam kapal, tidak ada drama di pelabuhan. Apalagi menangis minta makan.

Saya sadar, perjalanan ini bukan hanya tentang pergi ke tempat baru, tapi tentang menemukan versi terbaik dari diri saya sebagai orang tua.

Saya belajar bahwa: anak kecil butuh dilibatkan, bukan dikendalikan. Dan yang paling penting, emosi orang tua adalah cermin bagi anak. Jika kita tenang, anak pun ikut tenang. Dan ini terbukti selama perjalanan traveling kamu di kampung halaman.

Tips Praktis agar Traveling Bareng Anak Usia 3 Tahun Bebas Tantrum


Untuk para orang tua yang ingin mencoba traveling bareng anak usia 3 tahun bebas tantrum, ini beberapa hal yang benar-benar membantu saya:

1. Siapkan Anak Secara Emosional.

Tunjukkan foto destinasi, ceritakan pengalaman seru yang akan terjadi.

2. Bawa 'Zona Nyaman' Anak.

Bisa berupa boneka, selimut kecil, atau snack favoritnya.

3. Buat Jadwal fFleksibel.

Jangan terlalu padat. Beri ruang untuk tidur siang atau waktu tenang.

4. Ajak Anak Terlibat.

Misalnya memilih baju sendiri, membawa tas kecil, atau menentukan makanan.

5. Jaga Mood Orang Tua.

Karena energi kita yang positif menular ke anak.

Penutup


Sekarang, setiap kali saya mendengar orang berkata, “Wah, repot banget pasti traveling sama anak kecil!”, saya hanya tersenyum. Ya, repot sih tapi juga seru dan penuh pelajaran hidup.

Karena di setiap langkah kecil kaki anak saya, saya belajar untuk berhenti sejenak, melihat dunia dari mata seorang bocah yang selalu kagum pada hal-hal sederhana.

Dan ternyata, itulah makna sejati dari traveling bareng anak usia 3 tahun bebas tantrum, bukan sekadar perjalanan yang tenang, tapi sebuah perjalanan yang penuh cinta dan kesabaran. Sekian pengalaman kami. Semoga bermanfaat.

Salam,
Yunniew
Tulisan MQ
Hi I'm Yunniew, nice to know that you sure interest visit to my blog. Here's my journey. If any inquiries or campaign please drop an email to Yunniew@gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar