Hi SobatMQ!
Beberapa hari belakangan ini saya dikejutkan dengan banyaknya perubahan pada linimasa media sosial pribadi saya. Seliweran berita tentang buku digital milik artis dengan nama lengkap Aurélie Alida Marie Moeremans atau lebih banyak dikenal sebagai Aurelie Moeremans begitu banyak dibahas.
Buku berjudul Broken String - Kepingan Masa Muda yang Patah ini ditulis secara langsung oleh Aurelie. Buku ini tersedia dalam dua bahasa, yaitu versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Karena menyangkut isu child grooming, saya pun penasaran membacanya.
Untuk membaca buku yang dalam versi bahasa Inggris berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, SobatMQ bisa membuka link di bio deskripsi yang ada di Instagram @aurelie. Klik link tersebut dan kamu akan diarahkan ebook Broken String.
Hanya dalam waktu singkat, sekitar 3-4 jam saya selesai membaca buku ini. Bahasa yang ringan, namun detail membuat saya menyelesaikan dengan cepat.
Jujur, saya sempat sakit kepala, jijik, dan geram, beberapa saat ketika membaca buku ini. Saya tidak kuat membayangkan apa yang dialami oleh Aurelie. Sebuah penderitaan yang hanya (menurut saya) cuma ada dalam sinetron. Beneran. Rupanya memang ada dalam kisah nyata.
Begitu banyak penderitaan yang kejam, menjijikan, dan bikin istighfar (yang dialami Aurelie) membuat saya sakit kepala. Sebagai sesama perempuan saja, saya merasa rapuh dan tidak bisa sekuat dirinya menghadapi semua itu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu dan ayahnya Aurelie ketika mengetahui kebenarannya sesungguhnya dengan detail di buku ini.
Untuk Aurelie..
Aurelie kamu hebat! Kamu luar biasa bisa bertahan selama ini. Dengan banyaknya ketakutan, trauma, perlakuan, serta memori buruk yang telah dilalui, melihatmu tumbuh bahagia dengan pernikahan saat ini, yang sebentar lagi akan dikaruniai buah hati, saya turut bahagia untuk wanita kuat ini. Peluk Aurelie dari jauh.
Oh ya, saya infokan dulu jika di akhir buku Aurelie mengatakan bahwa tujuannya menulis buku ini adalah untuk memberi kekuatan pada 'Aurelie' lain di luar sana. Agar penyintas child grooming untuk tetap bertahan, bahwa kamu hebat bisa bertahan, dan kebenaran akan menemukan jalannya.
Selesai bahas bukunya, saya akan membahas pesan dan pelajaran penting yang sebenarnya Aurelie disampaikan lewat bukunya yaitu apa itu child grooming dan bagaimana bahanya. Kita bahas yaaa.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah istilah yang merujuk pada suatu tindakan manipulasi terhadap anak atau remaja yang bertujuan untuk membangun kedekatan emosional dan kepercayaan yang dilakukan oleh orang dewasa.
Seorang psikolog Meity Arianty via Detikpagi menyatakan bahwa tujuan dari child grooming adalah untuk eksploitasi seksual.
Pola Child Grooming
Child grooming biasanya masuk bukan dengan kekerasan, tetapi sebaliknya: pelaku datang dengan perhatian, kasih sayang, dan cinta yang bertubi-tubi. Seperti kisah Aurelie, grooming itu datang ketika dirinya merasa ada sesuatu yang dia dapatkan dari sosok Bobby, tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
Bobby datang dengan kasih sayang, perhatian, ‘hadir’ sepanjang waktu, totalitas sepanjang kegiatan hanya untuk sebuah pengakuan. Pengakuan dari target bahwa dirinya ‘aman’. Setelah itu pelaku akan mulai masuk ke circle keluarga, menunjukkan sikap yang sama agar keluarga pun tidak curiga.
Setelah target dan keluarganya merasa pelaku bukan lagi orang asing yang membahayakan, mulailah dirinya menguatkan ‘cengkeraman’. Pelaku akan melakukan proteksi berlebihan, meminta balas atas pengorbanan dan perhatian, hingga tak segan melakukan pengancaman dan intimidasi. Inilah pola yang dilakukan seorang groomer pada targetnya.
Belajar Tentang Child Grooming dari Kasus Aurelie Moeremans
Saya baru mengenal Aurelie Moeremans, dari kisah ebooknya yang viral ini. Banyak orang bahkan sebagian besar warganet menyebut bahwa kasus ini mirip dengan proses grooming, terutama jika dilihat dari sisi usia dan merangkum kejadian demi kejadian yang dialami Aurelie. Apalagi, pihak lelaki yang dalam bukunya disebut sebagai ' Bobby' berusia 29 tahun sedangkan Aurelie berusia 15 tahun kalau itu.
Dalam cerita yang dibagikan, terlihat bagaimana seseorang bisa terjebak dalam hubungan yang awalnya terasa penuh perhatian, proteksi, dan cinta, namun perlahan berubah menjadi kontrol, tekanan psikologis, dan ketergantungan emosional. Inilah ciri khas grooming yaitu pelaku tidak langsung menyakiti, melainkan ‘membungkus’ niat buruk dengan kebaikan semu.
Kasus seperti ini memberi pelajaran penting bahwa grooming tidak selalu terjadi pada anak kecil, tetapi bisa dimulai sejak usia remaja ketika seseorang masih rentan secara emosional. Popularitas, status sosial, atau pengalaman hidup yang lebih matang sering dijadikan alat oleh pelaku untuk mendominasi korban.
Dari sini kita belajar bahwa edukasi tentang relasi sehat dan batasan diri, sangat krusial bahkan harus dilakukan sejak usia dini.
Bahaya Child Grooming
Bahaya child grooming sering diremehkan karena dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Padahal, efeknya bisa lebih merusak dibanding kekerasan fisik yang terjadi secara tiba-tiba.
Beberapa bahaya utama child grooming antara lain:
1. Kerusakan Psikologis Jangka Panjang
Korban grooming sering mengalami rasa bersalah, malu, serta kebingungan. Mereka merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi, padahal sepenuhnya dirinya adalah korban.
2. Normalisasi Hubungan Tidak Sehat
Anak yang mengalami grooming cenderung menganggap manipulasi, kecemburuan ekstrem, dan kontrol sebagai bentuk kasih sayang. Ini berbahaya untuk kehidupan relasi mereka di masa depan.
3. Penurunan Prestasi dan Kepercayaan Diri
Banyak korban mengalami perubahan perilaku, menarik diri, prestasi akademik menurun, serta kehilangan kepercayaan diri.
4. Risiko Eksploitasi Lebih Lanjut
Grooming sering menjadi gerbang menuju kekerasan seksual, pemerasan, eksploitasi digital, atau perdagangan manusia.
Bahaya terbesar dari child grooming adalah sifatnya yang senyap. Saat orang tua menyadari, sering kali kerusakan sudah terjadi.
Cara Mencegah Child Grooming
Sob, untuk mencegah child grooming tentu membutuhkan peran aktif orang tua dan lingkungan. Berikut langkah-langkah penting yang bisa dilakukan:
1. Pentingnya Peran Kedua Orangtua Dalam Pengasuhan
Saya melihat tindakan grooming bisa terjadi karena hilang atau kurangnya peran orang tua dalam pengasuhan. Orangtua wajib hadir dalam pengasuhan si buah hati. Jika selama ini hanya ibu yang hadir, mulai sekarang, yuk sama-sama. Ayah dan ibu sama-sama memegang porsi yang seimbang dalam pengasuhan.
2. Ajarkan Tentang Batasan Tubuh dan Emosi
Sedari awal, ajarkan anak tentang tubuhnya. Dalam Islam diajarkan tentang tarbiyyah jinsiyah. Ini perlu ditekankan kembali pada anak, mana bagian tubuh yang boleh disentuh orang lain dan mana yang tidak boleh.
Jika terjadi hal yang dilanggar oleh orang asing, apa yang harus dilakukan. Ingatkan juga pada anak, terutama anak (perempuan yang mudah baper) bahwa tidak semua perhatian orang dewasa itu wajar atau boleh diterima. Ajarkan tentang batasan tubuh serta batasan emosi yang boleh dan bisa diterima.
3. Perhatikan Circle Pertemanan Anak
Orang tua perlu mengenal teman, komunitas, dan figur dewasa yang sering berinteraksi dengan anak, baik secara langsung maupun online. Jika anak tiba-tiba menarik diri dari komunikasi keluarga, pertemanan, atau tiba-tiba menjadi lebih pendiam dan murung, orangtua bisa mengetahui lebih dini.
Orangtua dapat mengambil sikap lebih tegas, bilamana terlihat gelagat yang aneh atau tidak baik pada anak. Perlu diingat juga bahwa, pelaku grooming telah memikirkan tindakan preventif jika aksinya diketahui orang dewasa. Untuk itu diperlukan tindakan nyata dan tegas dari orangtua sebagai wali sah si anak.
4. Bangun Komunikasi Terbuka Sejak Dini
Meja makan adalah tempat ternyaman untuk bercerita, manfaatkan momen ini untuk saling berkomunikasi dengan anak. Biasakan komunikasi yang terbuka dan tanpa saling menggurui.
Konon katanya, untuk mengetahui banyak rahasia si anak, maka orangtua dapat memposisikan diri sebagai teman bagi mereka. Sehingga mereka akan merasa 'nyaman' tanpa takut digurui. Tahan reaksi berlebihan jika mendapati sikap yang 'salah' dari cerita si anak. Dengan demikian, di kemudian hari mereka tidak akan segan untuk terbuka atas informasi apapun.
5. Jadilah Contoh Hubungan Sehat
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Hubungan orang tua yang saling menghargai, tanpa kekerasan verbal maupun emosional, akan membentuk standar sehat dalam diri anak.
Pencegahan child grooming bukan berarti mengekang anak, tetapi membekali mereka dengan kesadaran dan keberanian untuk melindungi diri.
Penutup
Memahami apa itu child grooming dan dampaknya adalah langkah awal untuk melindungi anak dari bahaya yang sering tersembunyi di balik sikap ramah dan perhatian berlebihan. Child grooming bukan isu sepele, melainkan ancaman nyata yang bisa merusak masa depan anak secara psikologis, emosional, dan sosial.
Dengan edukasi yang tepat, komunikasi terbuka, serta keterlibatan aktif orang tua, risiko child grooming dapat diminimalkan. Ingat, perlindungan terbaik bagi anak bukan hanya pengawasan, tetapi juga pemahaman dan kepercayaan yang dibangun sejak dini.
Mari lindungi anak-anak kita dari predator anak dengan selalu berdoa kepada Allah, meminta perlindungan total agar dijauhkan dari pelaku grooming. Amiin ya Rabbal 'alamin.
Salam,
Yunniew
Referensi:
Aurelie Moeremans, Wikipedia diakses Jan 15, 2026
https://id.wikipedia.org/wiki/Aur%C3%A9lie_Moeremans
Mengupas Risiko Hukum Buku Broken String, Diakses Jan 15, 2026
https://www.metrotvnews.com/read/N6GCVjwX-mengupas-risiko-hukum-buku-broken-strings-aurelie-moeremans
Mengenal Child Grooming dan Dampaknya Pada Anak, diakses Jan 15, 2026
https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-child-grooming-dan-dampaknya-pada-anak
Child Grooming, Modus Pelecehan pada Anak yang Jarang Disadari, diakses Jan 15, 2026
https://www.alodokter.com/child-grooming-modus-pelecehan-anak-yang-jarang-disadari


.jpg)

Posting Komentar
Posting Komentar