header

#SuamiIstriMasak Bukti Suami Hargai Peran Istri Dalam Rumah Tangga

23 komentar


"Mi, mau makan nggak?" Tanya suami pada saya yang saat itu sedang terbaring lemas. Sakit. Iya, sudah dua hari ini saya hanya rebahan di tempat tidur. Flu berat ditambah demam telah menyerang pertahanan imun tubuh saya. Keadaan ini membuat saya tak berkutik dari tempat tidur, hanya mendekam di balik selimut dan jaket tebal.

"Memangnya beli lauk apa?" lanjut saya bertanya. Kebiasaan suami kalau saat saya sakit adalah membeli lauk masak.

"Nggak, tadi Abi masak ayam kecap" katanya selow tanpa ekspresi.

Hah?! Saya yang sedang menggigil itu mendadak seperti tersengat hawa panas, kaget tak percaya bisa-bisanya Suami saya bisa masak ayam.

Dengan mengumpulkan energi yang tersisa, saya berjalan perlahan menuju dapur. Dan jreng jreng...ternyata benar, teman hidup saya ini telah memasak ayam dengan kuah kecap.

Tampilan memang tak jauh beda dengan masakan saya. Tapi bagaimana dengan rasanya? Pikiran saya seakan tak percaya.

Demi menghapus rasa penasaran, segera saja saya mengambil sendok mencicipi rasanya. Hmm lumayan, saya tak bisa banyak menggambarkan rasanya karena lidah saya pahit. Yang saya tahu ayamnya empuk, matangnya full. Dan yang paling penting kuah kecap nya kental dan tidak ada bau amis ayamnya.

Masih tak percaya dengan apa yang saya lihat, saya bertanya pada suami bagaimana cara dirinya bisa memasak lauk hari itu.

"Oh rahasia!" katanya sambil tersenyum.

Hahaha!! Dasar… Dia memang paling pintar bikin istri meleleh, baper banget ya padahal cuma dibantuin masak hehe.

Hmm tunggu dulu, saya mungkin perlu bercerita tentang bagaimana dulu sulitnya awal pernikahan kami hanya karena perkara masak memasak. Saya akan bercerita di tulisan ini ya, silakan di simak sambil selonjoran, karena tulisan ini mengandung curhat terselubung hehe.

Beratnya Komunikasi Awal Pernikahan


Saya menikah dengan suami 8 tahun yang lalu, usia suami saat itu 29 tahun. Hanya berbeda satu tahun diatas saya. Usia kami yang sudah 'matang' untuk menikah, menurut kami sudah tidak perlu diajari lagi konsep komunikasi yang benar.

Tapi ternyata pendapat ini salah, saya justru merasakan komunikasi yang sulit di awal-awal pernikahan kami. Terutama buat saya, sulit sekali rasanya mengatakan "saya sebenarnya capek, tolong bantu saya ini itu". 

Capek

Dalam mengerjakan urusan domestik, saya yang saat itu masih aktif bekerja di perusahaan manufaktur belum terbiasa dengan ritme kehidupan berumah tangga. Saat tiba di rumah saya sudah kelelahan hingga tak jarang saya langsung tertidur.

Suami saya yang terbiasa hidup teratur dan terorganisir rupanya juga belum bisa beradaptasi dengan kehidupan rumah tangga dengan saya.

Misalnya saja saat makan, Suami saya biasa dilayani. Saya yang sudah kelelahan berharap dia bisa melakukannya sendiri. Sekadar goreng telur atau beli lauk untuk makan tak masalah sepertinya. Namun tidak juga, dia tetap menunggu saya yang melakukannya. 

Di awal pernikahan, kami masih mengkotak-kotakkan peran suami dan istri. Saya juga masih percaya bahwa peran istri tetaplah mengurus rumah tangga, meski turut serta membantu perekonomian keluarga.

Namun kenyataannya idealisme saya ini berat sekali dijalani pada awalnya. Menjalankan peran ganda sebagai istri bekerja nyatanya membuat saya kelelahan.

Pada saat masih single, saya bisa langsung tidur saat tiba di rumah. Hanya bangun saat lapar atau waktu salat saja. Saya tidak terbebani dengan urusan remeh temeh rumah tangga.

Saya sering iri saat melihat suami pulang kerja bisa santai nonton TV sambil ngemil makanan, sedangkan saya masih harus berjibaku dengan tugas rumah tangga. Hal ini tampak terjadi ketimpangan dalam pembagian peran kami dalam keluarga.

Namun, bukannya menyampaikan secara gamblang, saya justru menunjukkan rasa lelah ini dengan ngambek atau diam saja tanpa menyampaikan apa yang saya rasakan. Tak jarang, ketika kesal saya justru menangis sendirian, hingga suami menjadi bingung padahal tidak ada masalah apa-apa (menurutnya).

Kejadian ini bertahan hingga satu tahun pernikahan kami. Saya lebih banyak menyampaikan keinginan menggunakan komunikasi dengan bahasa analogi atau bahasa kode dalam istilah saya, daripada membicarakan secara jelas.

Padahal sejatinya laki-laki sulit mengerti bahasa kiasan, mereka lebih paham kalimat langsung dari pada mengartikan 'bahasa kode' dari wanita. Bukan begitu wahai para lelaki??

Suami Istri Harus Saling Melengkapi


Kehidupan suami istri yang keduanya bekerja membuat kami tak bisa maksimal dalam kehidupan rumah tangga. Pasti ada salah satu yang dikorbankan. Saya sebagai istri yang juga bekerja, pasti tidak begitu maksimal mengurus rumah tangga. Saya paham hal itu.

Makanya ada istri bekerja kemudian mendelegasikan sebagian tugasnya di rumah tangga kepada orang lain seperti mencuci atau membersihkan rumah. Sah-sah saja selama ekonomi keluarga mencukupi.

Tetapi jika tidak, dibutuhkan sikap suami istri yang saling berbagi tugas untuk saling meringankan peran masing-masing. Tidak ada salahnya jika suami membantu istri mencuci, menjemur baju atau pun memasak di dapur. Tapi hal ini bisa terjadi jika keran komunikasi lancar.

Perselisihan yang sering terjadi antara saya dan suami dulu adalah cara komunikasi kami yang tidak lancar. Ini menjadi sumber pertikaian kecil dalam rumah tangga kami. Perkara urusan makan bersama saja bisa menjadi masalah, jika tidak dibicarakan dengan benar.

Saya beri contoh ya, makan bagi suami saya adalah makan nasi. Indonesia banget kan hehe. Sedangkan saya makan tidak harus nasi, apapun itu yang penting kenyang. Ya makanya berat saya segini-gini saja sih. Perbedaan pandangan ini sering menjadi pemicu ngambek-ngambekan saya dan suami.

Tapi demi menghargai suami kadang saya makan nasi juga. Namun penolakan itu tetap ada dalam diri yang tidak saya sampaikan. Saya hanya memendam di dalam hati.

Ini tidak baik ya, komunikasi dalam rumah tangga itu harus terbuka. Seharusnya apa yang menjadi kegalauan pasangan harus dibicarakan dengan jelas. Jika tidak, bisa menjadi boomerang di kemudian hari.


Iklan Kecap abc

Inilah gambaran macetnya komunikasi kami di awal pernikahan. Hingga masalah makan saja bisa menjadi pertikaian dalam rumah tangga. Padahal hanya beda persepsi saja. Jika keran komunikasi sehat, semua ini bisa dibicarakan dengan santai dan romantis.

Saya baru paham cara berkomunikasi yang baik setelah menginjak ulang tahun kedua pernikahan kami. Itu pun karena saya sering mengikuti seminar masalah kerumahtanggaan.

Dari seminar yang saya ikuti, saya baru tahu bahwa prinsip komunikasi yang baik antara suami istri adalah
  • Duduk bersama dan bicarakan
  • Bicara dengan suara rendah,
  • Saling mendengarkan pandangan masing-masing
  • Hindari menyalahkan pasangan

Dalam penyampaiannya, jangan mengedepankan asumsi pribadi. Bisa jadi asumsi  kita tidak sesuai dengan kenyataan. Asumsi pribadi bisa jadi salah, makanya stop mengira-ngira jika begini begitu. Bicarakan secara langsung dan gunakan bahasa yang mudah dipahami pasangan. 

Efek Komunikasi Dengan Bahasa Tak Langsung


Banyak pelajaran yang saya petik dari kejadian awal-awal pernikahan saya dan suami. Waktu 3 bulan pertama pernikahan adalah masa-masa indah, namun juga menjadi masa adaptasi dalam komunikasi kami.

Pangkal masalahnya hanya satu, komunikasi yang tidak lancar! Saya lebih banyak memendam masalah ketimbang membicarakan pada suami. Saya tidak membicarakan dengan detail apa kelelahan saya sebagai istri dan juga pekerja publik.

Perasaan lelah makin bertambah saat di kantor memiliki masalah, sedang pekerjaan rumah makin ada. Jangan sampai ada pemantik sedikit saja, bisa langsung jadi pemicu amarah.

Sedikit berbagi pengalaman saja dari saya yang baru menyelami rumah tangga selama 8 tahun ini, bagi istri stop menggunakan bahasa 'kode' pada suami. Dia tak akan paham, lebih baik membicarakan langsung to the point.

Tahu nggak sih efek bahasa kode ini bagi hubungan suami Istri dalam rumah tangga? Tentu saja pasangan menjadi sulit mengerti apa kemauan istri. Bisa jadi apa yang dimaksud berbeda dengan apa yang dilakukan. Selain bisa menjadi sumber permasalahan dalam rumah tangga, komunikasi yang tidak lancar dapat berimbas pada kesehatan mental kita lho.

Komunikasi dan Duduk Bersama adalah Kunci Pernikahan Bahagia


Dalam sebuah pernikahan komunikasi adalah kunci utama keharmonisan dalam rumah tangga. Ciri pernikahan bahagia adalah adanya ketenangan jiwa yang dilandasi ketakwaan kepada Tuhan YME dan adanya hubungan yang harmonis dalam rumah tangga.


Quote pernikahan

Salah satu kunci dari terciptanya hubungan yang harmonis adalah memahami peran masing-masing anggota keluarga serta saling membantu dalam kehidupan rumah tangga.

Komunikasi yang lancar dapat diperoleh dengan cara tidak menggurui satu sama lain, perbanyak mendengarkan, dan berusaha untuk saling memahami sudut pandang pasangan.

Menciptakan Quality Time Bersama Pasangan dengan Cara #SuamiIstriMasak Masak di Dapur


Lantas bagaimana cara kami mengubah pola komunikasi yang macet menjadi keharmonisan dalam rumah tangga? Saya dan suami kemudian lebih banyak menghabiskan waktu berkualitas secara bersama-sama. Keseharian saya dan suami yang memang bekerja memang banyak menyita waktu kami.

Waktu bersama setiap harinya memang terbatas, meski demikian kami tetap mengusahakan untuk duduk bersama sekedar ngobrol ringan sambil minum teh atau nonton TV. Satu hal yang mulai kami terapkan adalah masak bersama.

Ada rasa kagok saat kami harus terjun bersama di dapur. Tapi menurut penelitian jika suami istri banyak menghabiskan waktu bersama tentu saja semakin mempererat keharmonisan rumah tangga, kami pun mencoba melakukan hal ini bersama.

Jika Suami Bantu Istri Memasak Itu... 


Kegiatan masak bersama ini kami lakukan awalnya kami gagas sebagai bentuk latihan pada suami saat saya melahirkan. Ya, saat menginjak tahun kedua pernikahan, kami diberi kejutan hadiah oleh Allah SWT kehadiran anggota baru dalam rahim saya.

Pregnant

Dengan kabar bahagia ini, mulailah kami merancang simulasi bagaimana pembagian tugas saat saya melahirkan. Tentunya saya butuh waktu untuk recovery dan mengurus bayi. Peran baru sebagai ibu ini pastinya sangat menyita waktu saya.

Urusan rumah tangga seperti mencuci, termasuk masak memasak saya minta di-handle suami. Kali ini saya tidak menggunakan bahasa kode lagi. Tapi saya langsung membicarakannya secara gamblang. 

Sebagai pasangan perantau, tidak ada yang bisa diandalkan kecuali pasangan sendiri. Makanya mulai tahu hamil, kami mulai menyusun rencana bagaimana nanti urusan ini itu dilakukan suami. Makanya kami start dari latihan masak memasak.

Mulailah suami terjun ke dapur untuk pertama kalinya. Dia yang jarang sekali masuk dapur selama hidupnya, perlahan saya kenalkan beragam bumbu dan cara masak.

Termasuk bagaimana cara ke pasar dan membeli berbagai jenis sayur dan lauk. Duh kalau ingat masa itu, lucu juga kadang. Suami tidak tahu bagaimana memilih cabai, dunia bawang, ayam segar, membedakan ikan yang masih bagus, dan berbagai sayur an harus cepat belajar banyak hal. 

Dia yang tak biasa turun ke warung, kini harus memaksakan diri akrab dengan dunia pasar. Pernah saya minta beli bumbu bunga lawang, beliau browsing dulu melalui gadget. Takut salah beli katanya haha. 

1. Jika Suami Bantu Istri Masak, Tidak Mengurangi Sisi Maskulin Suami


Saya dibesarkan dari keluarga besar dengan 7 bersaudara, 3 perempuan dan 4 laki-laki. Sedari kecil Ibu saya tidak pernah membeda-bedakan bahwa pekerjaan ini khusus untuk laki-laki dan pekerjaan tertentu khusus untuk perempuan. Tidak! Sama sekali tidak.

Termasuk memasak, kami semua di ajarkan cara memasak sedari kecil. Bahkan kakak laki-laki saya lebih dulu pandai memasak nasi dan menumis sayur dibandingkan saya. Bukan itu saja bahkan kami juga terbiasa berbagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah.

Jadi tidak ada perbedaan pandangan di keluarga kami yang mengkotak-kotakkan pekerjaan tertentu dengan status gender. Intinya adalah saling membantu dan berbagi tugas dalam mengerjakan pekerjan rumah.

2. Meringankan Beban Pasangan


Begitu juga dengan pandangan jika #SuamiIstriMasak di dapur. Ini justru lebih meringankan beban pasangan, saling bekerja sama sehingga tidak hanya terpaku pada satu orang saja. Peran memasak bisa dilakukan oleh istri maupun suami. Apalagi kita melihat banyak sekali masterchef seorang laki-laki. Ini makin terlihat keren, tanpa mengurangi sisi maskulin mereka.

Saya pun bertekad, kelak anak laki-laki saya juga akan saya didik masuk dapur. Bahkan saat usianya 1,5 tahun ini saya sudah sering mengajak anak laki-laki saya memasak. Tujuan saya agar dia paham bahwa memasak bukan semata hanya tugas perempuan, laki-laki juga bisa memasak.

3. Betapa Romantisnya #SuamiIstriMasak di Dapur


Suami yang sering terjun ke dapur justru memiliki kesan tersendiri bagi istri. Dari saya pribadi yang melihat bagaimana di tahun pertama pernikahan kami begitu sulitnya perkara pembagian peran dalam urusan rumah tangga. Saya melihat bagaimana suami saya melakukan sesuatu tahap demi tahap berusaha belajar memasak dan membiasakan diri terjun ke dapur.

Masak bersama suami

Nyatanya hal ini sangat berdampak sekali dalam hubungan rumah tangga kami. Hal ini paling terasa saat saya melahirkan anak pertama, bagaimana suami saya berusaha pergi ke pasar membeli perlengkapan dapur, memasak, hingga menyiapkan makanan sehat untuk saya di pagi hari.

Tentu hal ini tidak serta merta terjadi dengan mulus, ada perjalanan panjang sehingga semua ini bisa terjadi. Tentunya dengan komunikasi yang baik. Hari ini saya bisa merasakan dampak positif dari #SuamiIstriMasak di dapur ini seperti
  • Menepis mitos kuno bahwa memasak adalah tugas Istri
  • Adanya pembagian peran yang seimbang dalam rumah tangga, dan
  • Dapat menambah keromantisan dalam rumah tangga.

Kolaborasi #SuamiIstriMasak di Dapur


Akhir pekan kemarin saya dan suami bersama-sama menyiapkan bekal makan siang bersama. Menyiapkan makan siang di waktu weekend berdua, tentu bukan hal sulit. Kami memilih waktu di pagi hari saat anak sedang tertidur agar bebas distraksi.

Kami mencoba untuk masak resep andalan ayam kecap. Pilihan memilih resep ini karena pembuatannya simple dan paling mudah. Saya pun tidak perlu memikirkan bakal mengotori banyak perabot, karena hanya butuh iris-iris bumbu dan digoreng saja.

Ibu-ibu pasti setuju nih kalau kegiatan masak bareng suami itu akan mengotori banyak perabot. Karena semua perabot yang dipakai tidak langsung dicuci. Tetapi demi meningkatkan bonding bersama pasangan, sepertinya tak mengapa ya. Oh ya ini resep masakan yang kami masak weekend kemarin.

Resep Ayam Kuah Kecap ABC


Bahan
400 gram ayam, potongan sesuai selera
5 siung bawang putih, cincang halus
2 ruas jahe, iris tipis
1 buah bawang bombay, iris
2 sdm kecap ABC
1 sdt kaldu jamur
½ sdt garam
1 sdt lada yang dihaluskan
3 sdm minyak sayur
½ potong wortel, iris tipis
200 ml air

Cara Membuat:
  • Tuang minyak sayur kedalam wajan dan tumis bawang putih ,setelah menguning masukkan bawang Bombay. Tumis hingga harum
  • Masukkan ayam aduk rata hingga berubah keluar kaldunya.
  • Masukkan kecap ABC, garam, lada, jahe, dan tambahkan kaldu jamur, dan potongan wortel, aduk hingga rata, kemudian tambahkan air
  • Selama memasak tutup wajan dan gunakan api kecil. Sesekali aduk perlahan agar ayam tidak gosong
  • Setelah airnya susut dan ayam lembut, angkat dan sajikan dengan penuh cinta, ditambah dengan taburan daun bawang.

Ayam kecap

Oh ya, mengenai rasa masakan yang dihasilkan, saya tidak khawatir karena semua bumbu sudah sesuai takaran yang pas. Nah untuk resep masakan kali ini, rasa yang dihasilkan begitu kaya karena ada tambahan kecap ABC. Rasa kecap ABC yang kaya karena berasal dari perasan kedelai pertama yang berkualitas bikin masakan jadi tambah lezat. 

Rangkaian Kegiatan #SuamiIstriMasak Kecap ABC


Data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk jumlah perceraian orang Islam saja pada tahun 2021. sebanyak 447.743 kasus perceraian. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya berjumlah 291.677 kasus perceraian.

Mengutip liputan6.com berdasarkan Badan Peradilan Agama mengungkap bahwa penyebab perceraian antara lain pertengkaran yang berlarut-larut, faktor ekonomi, ditinggalkan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga, mabuk, dan sebagainya.

Dalam rangka mengurangi angka perceraian yang tinggi ini, Kecap ABC berinisiatif kampanye #SuamiIstriMasak.

Rangkaian kegiatan #SuamiIstriMasak di dapur yang digagas oleh kecap ABC ini adalah bentuk dukungan Kecap ABC terhadap peran istri untuk menyajikan makanan sehat berkualitas. Serta sebagai upaya dukungan suami untuk menghargai peran istri dalam rumah tangga. 

PT Heinz ABC Indonesia telah bergerak mengkampanyekan #SuamiIstriMasak sebagai bagian dari kampanye Together at the table ( bersama di meja makan). Rangkaian kegiatan #SuamiIstriMasak ini telah dimulai sejak 2018 dimana kampanye #SuamiIstriMasak ini baru diinisiasi.

Kemudian pada tahun 2019, inisiasi kampanye #SuamiIstriMasak dilakukan selama hari kesetaraan perempuan. Pada tahun 2020, Kecap ABC melakukan kolaborasi dengan platform edukasi untuk melibatkan anak-anak dalam kampanye hari kesetaraan perempuan.

Dan pada tahun 2021, kampanye #SuamiIstriMasak dilakukan dengan kolaborasi apik dengan couple goals romantis, Titi Kamal dan Christian Sugiono. Tujuan kampanye #SuamiIstriMasak ini untuk menekankan pentingnya kolaborasi suami dan istri di dapur.

Saya pun menulis artikel ini karena terinspirasi dari sebuah iklan Kecap ABC yang mengajak kolaborasi #SuamiIstriMasak. Video lengkapnya bisa di lihat pada video di bawah ini



Yuk, Suami Bantu Istri Memasak Sebagai Wujud Hargai Peran Istri 


Saya merasa dengan adanya kampanye #SuamiIstriMasak ini semakin mendukung adanya pembagian peran yang saling mengisi dalam rumah tangga. Tidak mengkotak-kotakkan tugas tertentu berdasarkan gender. Kampanye ini juga membuktikan bahwa keran komunikasi yang sehat dalam rumah tangga.

Bagaimana seorang laki-laki yang tidak terbiasa ke dapur jadi mau masak dan berbagi peran dengan istri, mau repot repot mengupas bawang atau menggiling cabai, bahkan berkeliling pasar hanya untuk membeli sayur. Semua ini dapat terjadi karena telah ada komunikasi yang baik antar keduanya.

Dari kampanye #SuamiIstriMasak ada sebuah nilai penting yang saya petik bahwa suami yang baik adalah adalah bagaimana dia bisa menghargai betapa luar biasanya peran istri dalam menghadirkan masakan sehat dan berkualitas untuk keluarga.

Yuk para Suami, mari terjun ke dapur dan lakukan #SuamiIstriMasak sebagai wujud menghargai peran istri dalam rumah tangga. Setuju nggak?

Salam,
Yunniew

Referensi
Andrianti, S. (2011). Feminisme dalam The Oxford Handbook of the History of Political Philosophy, 1–23.

Tulisan MQ
Hi I'm Yunniew, nice to know that you sure interest visit to my blog. Here's my journey. If any inquiries or campaign please drop an email to Yunniew@gmail.com

Related Posts

23 komentar

  1. Romantis ya kalau suami istri barengan masak di dapur...bisa coba berbagai resep dan sebetulnya jadi quality time berdua

    BalasHapus
  2. Hmmm ayam kecap, kesukaan anak perempuanku. Sayangnya yang lain nggak begitu suka. Kalau masak biasanya saya ada dua jenis, karena beda selera jadi ribet sih, tapi ya gimana lagi wkwkwk

    BalasHapus
  3. Setuju banget, masak bareng suami itu romantisnya bukan main, hehe. Biasanya yang satu jadi chef utama yang satu jadi asisten hehe

    BalasHapus
  4. Suami suka masak itu suami siaga dan romantis. Dalam rumah tangga urusan domestik itu tanggung jawab bersama saling membantu dan saling melengkapi

    BalasHapus
  5. Masak sambil ngobrol sama paksu. Duh, recommended syekaliih untuk dicoba

    BalasHapus
  6. So sweet banget masak berdua suami. Aku belum pernah ngerasain sie. Next mesti dicoba nie

    BalasHapus
  7. Aduh, aku enggak kuat dengan kegemoyan di pembukanyaa wkwk. Jiaa jomlo-ku meronta-ronta dan memberontak ingin segera—lupakan, xixi. Btw, aku setuju banget kalau pasutri mesti saling menghargai peran masing-masing kaeena itu bisa jadi kunci kesetiaan dalam rumah tanggaa

    BalasHapus
  8. Pentingnya komunikasi yang baik ya, mba, dalam hubungan suami istri. Biar nggak kode2 mulu. Aku dulu jg gitu, suka tetiba ngambek 🤣🤣🤣 salah satu tips quality time bareng suami ya masak sama2. Biar komunikasi jd makin dalem.

    BalasHapus
  9. Keren banget judulnya. Suami masak tuh memang bantuin istri banget sekaligus menciptakan moment romantis sih, ya

    BalasHapus
  10. Emang nih masalah komunikasi kadang juga masih jadi hambatan dalam pernikahan. Ya kali kan suami ngga bisa baca pikiran kita ya wkwkw. Tapi collab masak bareng suami di dapur emang efektif kok buat mencairkan suasana hehhe.

    BalasHapus
  11. Memang dalam kehidupan berumah tangga perlu adanya rasa saling menghargai ya kak biar keutuhan rumah tangga tetap terjaga..

    BalasHapus
  12. Setuju banget kalau prinsip berkeluarga itu bukan mencari yang sempurna, tetapi suami istri itu harus saling melengkapi, dan komunikasi adalah kunci utama dan kunci awal untuk menuju ke sana

    BalasHapus
  13. Wah, masak bersama romantis juga ya. Enak lagi makan bersama...

    BalasHapus
  14. komunikasi adalah kunci, sepakat nih karena hal ini yang saya kuatkan di awal menikah

    BalasHapus
  15. Komunikasi adalah koentji ya Mba, inget bgt dlu maish suka ngambek diemban seribu bahasa dna makin sebel krna kdg suami ga paham, hahahah. Klo dah tau ilmunya gini jdi minim misscom, apalagi klo dibantuin masak breng gini

    BalasHapus
  16. Masya Allah, suami idaman nih Bun. Semoga sehat selalu dan dengan #SuamiIstriMasak akan membuat keluarga Indonesia makin kuat dan suami makin sayang istri

    BalasHapus
  17. Memang ga ada yang lebih berarti dari saling menghargai peran dan perasaan pasangan masing-masing. Suami Istri Masak memang menjadikan masing-masing merasa saling menghargai

    BalasHapus
  18. Masya Allah seneng sih kalau punya suami yang juga mau terjun ke dapur hehe.. jadi nambah mesranya nih :)

    BalasHapus
  19. next, aku mau nyoba speak speak ah, siapa tahu bertambahnya usia pernikahan suami juga perlahan betah di dapur, hhhe. Energi mbak yuni menceritakan perkara suami istri masak ini begitu tulus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi makasih mbak Windi.. Dan semoga pesannya juga tersampaikan dengan tulus ya mbak.

      Hapus
  20. Memang harus dikomunikasikan dari sebelum married ya mba untuk kerjasama rumah tangga dalam hal ini masak-masak hehe biar awal pernikahan nggak berat juga mengkomunikasikannya. Tapi akhirnya dah aman ya ^^ semoga terus kompak dan menciptakan masakan bergizi dan enduls

    BalasHapus
  21. Aku paling gak bisa deh kalau disuruh masak, tapi aku paling suka memuji hasil masakan isteri. Apalagi kalau misalnya pake kecap ABC. Duh... Bisa nambah 2 kali lho... Nambah rasa sayangnya!

    BalasHapus
  22. dari terpaksa keadaan yang mengharuskan jadi terbiasa ya mba akhirnya... hihi
    bener komunikasi sebelum menikah, kalau katanya ummu balqis jangan komunikasi karet gelang wkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar