header

Review Cerpen Setelah Para Tetua Pergi

2 komentar

Tugas ODOP ke empat ini adalah memberikan opini tentang sebuah cerita pendek. Sebagai seorang blogger aliran curhatisme tentu ini merupakan tantangan yang sangat berat. Namun begitu aku tetap mencoba menyelam meski aku tak pandai berenang wkwk. 

Kali ini aku mengambil review cerpen 'Setelah Para Tetua Pergi'. Cerpen karya Achmad Ikhtiar ini bercerita tentang tradisi turun temurun di suatu daerah untuk menjaga keseimbangan jumlah penghuni suatu 'rumah'. Aku mengartikan makna rumah disini sebagai suatu perkampungan yang sangat kental dengan adat istiadat yang dipimpin oleh para Tetua.

Review dari Paradigma Emak Blogger


Jujur ini sama pressure nya ketika aku diminta untuk membuat opini tentang 'Penanganan Pandemi oleh Pemerintah' . Ketika itu kondisi psikologis aku dalam keadaan paranoid tentang bahaya Covid-19. Jangankan muncul beragam ide brilian, bahkan sekadar mencari rujukan tentang informasi valid Covid-19 saja aku tak berani.

Bukan Ahli Cerpen


Aku memang suka menulis, apapun yang kulihat bisa kurangkai menjadi sebuah tulisan. Tapi jika menyangkut wilayah sensitif yang bisa membuat bersinggungan dengan orang lain, aku memilih menghindarinya.

Maka disini aku memberikan opini bukan dari sudut pandang penulis cerpen. Tapi aku berusaha mengurai satu demi satu benang merah dalam cerita sekali duduk ini, lewat paradima emak blogger.

Aku hanyalah seorang blogger aliran penikmat cerpen. Cerpen santai adalah cerpen yang paling menarik minatku. Memang ada cerpen santai? Hehe itu adalah istilahku sendiri untuk cerpen dengan alur dan konflik anti njelimet club. Cerpen dengan aliran realistik dan romansa percintaan remaja adalah favoritku.

Maka percayalah, untuk bisa beropini tentang cerpen dengan cerita yang wow, sebenarnya bukan ranahku. But life must go on khan? I'll try :)

Unsur dalam Cerpen


Cerpen adalah cerita yang habis dibaca sekali duduk. Alur yang paling banyak diminati penulis cerpen adalah Drama 3 Babak yaitu :
  • Babak 1: perkenalan karakter dan masalah
  • Babak 2: Puncak masalah (klimaks)
  • Babak 3: Penyelesaian

Dalam sebuah cerpen terdiri dari 2 unsur, yaitu :
  • Unsur intrinsik
  • unsur ekstrinsik

Unsur intrinsik dalam sebuah cerpen terdiri dari tema, tokoh dan penokohan, alur atau plot, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.

Sedangkan unsur ekstrinsik terdiri dari latar belakang masyarakat, latar belakang penulis, serta nilai-nilai yang ada di dalam karya sastra tersebut

Review Cerpen Setelah Para Tetua Pergi


Berikut uraian opini aku dalam cerpen Setelah Para Tetua Pergi.

Tema

Tema yang diangkat oleh Achmad Ikhtiar adalah tentang tradisi turun temurun di suatu daerah. Sayangnya aku tidak melihat ini terjadi di mana, karena memang tidak tertulis. Disitu aku kehilangan arah mesti mengambil rujukan dimana, terlebih tertera pernyataan "Jika kalian membaca dengan baik buku nubuat yang sudah kami tulis ribuan tahun lalu...." Aku tidak paham, ini cerita berkisah tahun berapa.

Tokoh

Karena disini penulis menggunakan kata ganti orang pertama jamak yaitu 'Kami' aku jadi sedikit menerka-nerka sekiranya berapa orang tokoh utamanya. Kalau aku penulisnya aku lebih condong menggunakan kata 'Aku' toh di akhir cerita yang diangkat justru seorang bapak dan anaknya.

Plot

Mengenai alur cerita yang dikisahkan dalam cerpen Ketika Para Tetua Pergi ini, aku tidak melihat ada yang perlu dikomentari. Karena jalan cerita dengan alur campuran ini, cukup bisa dipahami oleh pembaca.

Drama 3 babak dalam cerpen, sangat terasa disini. Semua terbaca jelas dan mudah dipahami bahkan oleh aku yang kurang menguasai jenis aliran cerpen. Ending cerita yang diluar dugaan justru adalah hal yang paling menarik dari cerita 'Ketika Para Tetua Pergi'

Membaca karya penulis ini, aku seperti habis menyaksikan film Hollywood yang kental dengan babak lanjutan di akhir cerita. Membuat pembaca yang lugu seperti aku bertanya-tanya, jadi yang mati bukan si Tambun itu. Justru yang pergi adalah Para Tetua. Hmm ku akui bro Achmad cukup pintar bikin pembaca berdecak kagum

Lain lagi dari sisi ilustrasi yang dibuat. Aku terkaget-kaget dengan tampilan ilustrasi orang dengan todongan baretta di kepala. Buat aku yang plegmatis, terlalu ekstrim dengan tampilan seorang tokoh tambun dalam cerita yang ditodongkan senjata api. Hal ini tentu bertentangan dengan norma yang berlaku saat ini, untuk penggambaran ilustrasi dengan kekerasan. Jika ini dimuat dalam sebuah surat kabar, mungkinkah ini dibolehkan? Aku tidak yakin.

Overall, menurutku sebagai penikmat cerpen yang tak pandai mengungkapkan kata indah. Cerita ini cukup menghibur bagiku, terlebih aku sangat suka dengan ending yang cukup membuat dahi berkerut dan berpikir.

Penulis cukup pintar memainkan peran kata disini. Kamu sudah membaca cerpen Setelah Para Tetua Pergi  juga? Apa kesanmu? Cerita dong!

Salam,
Momin MQ
Tulisan MQ
Hi I'm Yunniew, nice to know that you sure interest visit to my blog. Here's my journey. If any inquiries or campaign please drop an email to Yunniew@gmail.com

Related Posts

2 komentar

  1. Kereen reviewnya kak

    Banyak ilmu juga jadinya, jadi inget unsur2 dalam sebuah cerpen dan memamahami cerpen dalam sudut pandang yang berbeda

    BalasHapus

Posting Komentar