header

Banyu Biru (Bagian Akhir)

4 komentar
   
Banyu Biru

Karin semakin hari merasa semakin terdesak. Tak disangka masalahnya akan menjadi sepelik ini.

Mengapa dia yang akhirnya harus memutuskan akan dibawa kemana arah pengasuhan Bayu. Mungkinkah dikembalikan lagi pada keluarganya yang keduanya sudah tiada. Jikalau dikembalikan pada keluarganya pun, itu harus pada neneknya. Sedangkan neneknya bukan usia muda lagi untuk merawat bayi.

Karin menyerah, tak tahu harus berbuat apa. Terlebih Darma semakin mendesak, agar Karin segera membuat keputusan.

"Kamu harus tegas Bun, Kamu maunya gimana ini? Pilihan ada di tangan kamu sekarang. Kamu mau setiap hari kita merasakan suasana 'panas' begini terus. Belum lagi suara tangis Bayi yang tiap malam ga ada jeda. Berry yang sering kamu cuekin. Apa mau begini terus tanpa solusi? " Darma mencecar Karin dengan segerbong alasan yang mengarahkannya pada keputusan harus mengembalikan Banyu Biru.

Karin tak menggubris. Dia hanya menangis.

"Sekarang pilihannya di Kamu, kamu yang putuskan" Darma kembali mencecar.

"Betul, tapi masalahnya ini keputusan yang tidak mudah, Ay!" Karin mencoba bersuara, meski banyak kalimatnya yang tercekat di tenggorokan. Dia terus saja memeluk Bayu.

"Okey, sekarang gini aja, bagaimana kalau Aku yang bantu Kamu membuatnya menjadi mudah?" Darma menatap Karin lekat. Dia beranjak dari kursi yang sedari tadi didudukinya.

"Aku memberimu pilihan mudah, Kamu kembalikan Bayu atau rumah tangga kita bubar.!?"

Bagai petir di siang bolong! Tak menyangka pilihan Darma semakin menambah sesak di dada Karin.

"Apa-apan sih Kamu, Ay?" Karin mendongak, tetap dengan mata mulai berair.

"Kamu sadar ga dengan apa yang kamu katakan barusan? Kamu sadar ga sih?" suara Karin mulai tercekat di tenggorokan dan sesaknya dada.

" Aku sadar Bun, bahkan sangat sadar saat kamu lebih banyak ketakutan dan mengacuhkan Berry. Kamu bahkan hanya fokus pada Bayu yang bukan siapa-siapa kita ini. Rupanya malah membuat keluarga kita menjadi begini. Kamu menjadi paranoid, Berry terbengkalai, dan kita sering berantem begini. "

" Ayah... Ga nyangka kamu tega berbicara begitu, tanpa berpikir tentang perasaanku dan Bayu. Aku pikir kamu sudah mulai egois dan tak berperasaan." elak Karin.

" Aku pikir, pembicaraan kita ini ga perlu diteruskan ya.. Aku anggap ini tidak pernah terjadi. Aku tidur dulu! "

*****

Karin semakin dilema. Dia berada di posisi yang sulit dalam hidupnya. Ia tak bisa tidur, bahkan makan pun dia selera. Setelah Pembicaraan malam itu Karin semakin takut kehilangan Bayu. Setiap hari yang ada dalam pikirannya bagaimana dia bisa menenangkan Bayu, agar bisa tidur nyenyak tanpa menangis seperti hari-hari biasanya.

Kehidupan rumah tangga mereka semakin memanas. Bagaimana dengan Bayu? Tetap saja menangis saat hendak tidur. Tak diurusnya Darma, dia lebih fokus pada Bayu dan Berry. Karin seakan tak peduli dengan apa yang dilakukan Darma. Dia hanya fokus pada buah hatinya saja.

Karin merasa dirinya sudah setengah gila memikirkan pilihan sulit yang diberikan Darma. Karin jadi teringat dengan ucapan seorang warga dulu, di awal menempati rumah ini.

"Banyak yang ga mau tinggal di rumah itu. Katanya sih rumah itu membawa kutukan bagi pemiliknya. Terutama bagi yang memiliki anak."

Begitu selentingan yang didengar Karin dari ibu-ibu di kampung Kijang ini. Tapi apa hendak dikata, saat itu Karin malah tidak terlalu percaya dengan berita semacam itu. Bahkan dia hanya tersenyum saat dikatakan demikian.

****

Karin meletakkan sebuah surat di meja kamarnya. Di situ tertulis "Buat Ayah anak-anakku!" Karin sesak saat meletakkan surat itu. Tapi mau bagaimana lagi, Darma yang terus memaksanya dengan pertanyaan serupa.

"Bagaimana, sudah ada keputusan ?"

Darma seakan tidak mempedulikan lagi Karin sebagai seorang Ibu dan istrinya, yang selama ini mengasuh dan merawat anak-anaknya. Membersamai dirinya hingga saat dia meraih puncak kejayaan karirnya. Karin selalu mendampinginya.

Tapi hanya karena seorang bayi Banyu Biru ini, Darma seakan tidak bisa melihat semua usaha Karin. Tidakkah Darma memiliki perasaan, bahwa Bayi kecil ini tidak perlu menjadi penghalang harmonisnya rumah tangga mereka. Tidak adakah solusi lain yang ditawarkan oleh Darma padanya?

Karin menyerah, dia memilih bercerai dari Darma.

Tak sanggup mengatakan secara langsung, Karin mengungkapkan isi hatinya melalui sepucuk surat yang ditulisnya dengan deraian air mata.

Darma kaget dan menangis membaca surat dari Karin, Dia bahkan tak mengira pilihan yang diberikannya begitu menyakiti Karin. Karin pergi bersama Berry dan Bayu. Darma terduduk sendiri di meja kamarnya. Rumah tangga mereka hancur.

****

6 tahun berlalu

Dalam sebuah sudut jalan, Darma memandang lekat pada rumah abu sambil memandang sebuah foto keluarga lengkap. Dirinya, Karin, Bayu dan Berry. Tak disangka, perlakuannya memisahkan Karin dan Bayu begitu sulit. Hingga mengakibatkan rumah tangganya yang berantakan.

Isu hantu rumah abu-abu itu tak bisa memisahkan Karin dan Bayu. Bahkan berakibat dia yang harus terpisah dengan darah dagingnya sendiri dan istri tercinta, Berry dan Karin.

Kasih sayang seorang wanita terhadap anak tak bisa diukur dengan apapun. Usahanya sia-sia mengarang cerita penghuni gelap, teror anak hilang, hingga Banyu Biru terjatuh dari tempat tidur. Cerita itu hanya karangan Darma agar Karin lepas dari Bayu. Kini Darma menyadari menyesal tua tiada berguna.

*The End*
Tulisan MQ
Hi I'm Yunniew, nice to know that you sure interest visit to my blog. Here's my journey. If any inquiries or campaign please drop an email to Yunniew@gmail.com

Related Posts

4 komentar

  1. wattttttatatttt, plot twist abis uwaaa... aku nggak nyangka aslik, mom.. weh :/ tapi serius ini cerita in real life banget banyak ada :/
    huwaaa thankyouu uda bikin cerita mengesankan mom, can't wait for another short story kalau ada :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weleeh weleeh maapkaen masih belepotan ini sajian ceritanyaa wkwk

      Hapus

Posting Komentar